Sosial Budaya KABUPATEN CIREBON
Yo semua , kali ini kita akan membawakan artikel tentang Sosial budaya dari Kabupaten Cirebon , simak ini ya.
Yo semua , kali ini kita akan membawakan artikel tentang Sosial budaya dari Kabupaten Cirebon , simak ini ya.
A.
Makanan
Empal Gentong
Sega
Jamblang atau Nasi Jamblang. Nama Jamblang berasal dari nama daerah di sebelah
barat kabupaten Cirebon tempat asal pedagang makanan tersebut. Sega Jamblang
pada awalnya sebenarnya diperuntukan bagi para pekerja paksa pada zaman Belanda
yang sedang membangun jalan raya Daendels dari Anyer ke Panarukan yang melewati
wilayah Kabupaten Cirebon, tepatnya di Desa Kasugengan. Ciri khas makanan ini
adalah penggunaan daun Jati sebagai bungkus nasi. Dibungkus dengan daun jati, tujuannya
agar bisa tahan lama dan tetap terasa pulen. Hal ini karena daun jati memiliki
pori-pori yang membantu nasi tetap terjaga kualitasnya meskipun disimpan dalam
waktu yang lama. Penyajian Nasi Jamblang bersifat prasmanan menggunakan meja
rendah yang dikelilingi bangku panjang untuk duduk pembeli. Makanan digelar
dengan menggunakan wadah-wadah yang masih tradisional. Penjual akan menyodorkan
nasi yang dibungkus daun jati kemudian kita tinggal mengambil sendiri lauk pauk
yang ingin dimakan. Aneka pilihan antara lain sambal goreng, paru, semur
hati/daging, perkedel, sate kentang, telur, ikan asin, tahu dan tempe otak
goreng dan sambel cabe merah, tidak ketinggalan blakutak, sejenis cumi-cumi
yang dimasak bersama tintanya. Walaupun menunya sangat beraneka ragam, namun
harga makanan ini relatif sangat murah. Nasi Jamblang yang cukup tersohor,
adalah Nasi Jamblang Mang Dul yang berlokasi di Gunung Sari dekat lampu merah
ke arah jalan Tuparev.
B.Pakaian
C.
Tarian
JARAN
LUMPING
Jaran Lumping dahulu disebut
juga Jaran Bari dari kata Birahi atau Kasmaran, karena mengajarkan apa dan
bagaimana seharusnya kita mencintai Allah dan Rasulnya. Oleh karenaitu tarian
Jaran Lumping digunakan sebagai alat dalam mengembangkan agamaIslam.Yang menciptakan Jaran Lumping adalah Ki Jaga Naya dan Ki Ishak dari
Dana Laya Kecamatan Weru. Waditra yang digunakan
yaitu bonang kecil, bonang Gede, panglima, Gendang, Tutukan, Gong, dan Kecrek.
sarana lainnya Damar Jodog,
Sesajen, Pedupaan, Bara Api/Aran dan Jaran Lumping 5 buah yaitu Jaran Sembrani,
Jaran Widusakti, Jaran Widujaya, Jaran Sekadiu. Busana penari menggunakan ikat
wulung gundel meled, udeng merah, sumping kantil dan melati,selendang, rompi,
celana sontok, kestagen/bodong dan kain batik.
D.
Legenda
Keraton
Kasepuhan Kabupaten Cirebon
Sebagai
kota yang dibangun pada masa perkembangan Islam, pusat kota Cirebon berada di
sekitar alun-alun. Di sebelah selatan alun-alun terdapat Keraton Kasepuhan.
Secara administratif keraton ini berada di wilayah Kampung Mandalangan,
Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk tepatnya pada koordinat 06º 43'
559" Lintang Selatan dan 108º 34' 244" Bujur Timur. Seluruh kompleks
keraton luasnya sekitar ± 185.500 m2 yang dibatasi oleh Jl. Kasepuhan di
sebelah utara, timur Jl. Mayor Sastraatmaja, selatan Kali Kriyan, dan di sisi
barat terdapat pemukiman penduduk.
Keraton Kasepuhan dibangun sekitar tahun 1529 oleh Pangeran
Cakrabuana, merupakan perluasan dari Keraton tertua di Cirebon, Pakungwati.
Keraton Pakungwati atau yang dikenal juga Dalem Agung Pakungwati merupakan
cikal bakal Keraton Kasepuhan. Keraton Pakungwati yang terletak di sebalah
timur Keraton Kasepuhan, dibangun oleh Pangeran Cakrabuana (Putera Raja
Pajajaran) pada tahun 1452, berati bersamaan dengan pembangunan Tajug
Pejlagrahan yang berada di sebelah timurnya. Pada tahun 1479 keraton ini
diperluas dan dilebarkan. Luas situs pertama di Cirebon ini sekitar 4900 m2,
mempunyai tembok keliling sendiri, keadaan bangunannya sekarang tinggal
reruntuhannya saja. Di lokasi tersebut terdapat sisa-sisa bangunan, gua buatan,
sumur dan taman.
Pada abad ke-16 Sunan Gunung Jati mangkat, digantikan oleh
cicitnya yang bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin dan bergelar Panembahan
Pakungwati I. Pada tahun 1529 beliau membangun keraton baru di sebelah barat
daya keraton lama. Keraton baru ini juga dinamai Keraton Pakungwati,
mengabdikan nama puteri Pangeran Cakrabuana atau buyut sultan, yang gugur pada
tahub 1549 ketika ikut memadamkan kobaran api yang membakar Mesjid Agung Sang
Cipta Rasa..
E. Suku
SUKU CIREBON
Pada provinsi Jawa Barat terdapat banyak macam suku. Mayoritas suku yang terbesar di Jawa Barat adalah suku Sunda. Ada beberapa suku kecil yang terdapat di provinsi Jawa Barat. Salah satunya adalah Suku Cirebon. Suku Cirebon yang berada di daerah pantai utara memiliki keanekaragama budaya bahkan suku Cirebon merupakan suku yang memiliki kebudayaan sendiri dan mandiri.
Pada provinsi Jawa Barat terdapat banyak macam suku. Mayoritas suku yang terbesar di Jawa Barat adalah suku Sunda. Ada beberapa suku kecil yang terdapat di provinsi Jawa Barat. Salah satunya adalah Suku Cirebon. Suku Cirebon yang berada di daerah pantai utara memiliki keanekaragama budaya bahkan suku Cirebon merupakan suku yang memiliki kebudayaan sendiri dan mandiri.
Suku Cirebon adalah perpaduan antara dua suku besar yaitu
suku Jawa dan suku Sunda. Akulturasi kedua suku tersebut melahirkan suku yang
mandiri yaitu suku Cirebon. Sejak dahulu hingga sekarang suku Cirebon adalah
suku yang berbeda dari suku Jawa dan suku Sunda. Hal itu terlihat dari jejak
sejarah yang termuat dan terungkap dalam kitab Purwaka Caruban Nagari, nama
“Cirebon” berasal dari kata Sarumban yang jika diucapkan maka menjadi caruban.
Seiring perkembangan caruban berubah menjadi carbon, cerbon dan akhirnya
menjadi Cirebon. Sarumban memiliki arti Campuran, maka Cirebon berarti
Campuran.
Pada Abad 15 keberadaan
Suku Cirebon bermula dari sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Situasi
di Muara Jati sangat produktif. Sektor perdagangan menjadi ladang usaha yang
kuat di daerah tersebut. Banyak kapal-kapal singgah disana termasuk kapal dari
luar negeri. Seiring perkembangan daerah Muara Jati menjadi kerajaan Cirebon
pada masa pangeran Walangsungsang putra Prabu Siliwangi yang sampai saat ini
ada.
Sejak perdagangan mulai
berkembang pesat di daerah Muara Jati yang sekarang menjadi Cirebon,
perkembangan Islam di daerah tersebut sudah mulai berkembang. Mayoritas
masyarakat Cirebon memeluk agama Islam. Adapun Islam yang ada dalam masyarakat
Cirebon memiliki kekhasan. Hal itu karena Islam di Ceirebon berakulturasi
dengan kebudayaan setempat. Selain itu penyebaran agam Islam berkembang pesat
diantaranya karena ada walisongo yang terkenal yaitu Sunan Gunung Jati yang
menyebarkan agama Islam di Daerah Cirebon.
Masyarakat Cirebon adalah
masyarakat yang lahir dari akulturasi budaya Sunda dan Jawa termasuk lahir dari
masa animisme dan dinamisme yang percaya kepada hal-hal yang bersifat
kepercayaan. Diantara kepercayaaan itu adalah misal mereka percaya bahwa jika
seorang gadis duduk di depan pintu maka gadis tersebut akan sulit menemukan
jodoh. Selain itu, jika seorang gadis menyapu tidak sampai bersih dan
meninggalkan kotoran maka gadis tersebut diyakini akan memiliki suami yang
memiliki jenggot. Seiring perkembangan zaman serta masuk agama Islam,
masyarakat Cirebon lebih mulai rasional dalam memandang apapun termasuk persoalan
yang ada. Banyak perubahan dalam masyarakat Cirebon yang mengedepankan
sikap-sikap rasional dalam menentukan banyak hal dalam kehidupan.
Dalam segi tata kelola
pemerintahan serta organisasi sosial dalam masyarakat Cirebon terdapat sistem
pemerintahan seperti adanya Bupati dan Walikota beserta aparatur. Namun secara
budaya setempat dan sejarah yang telah terjadi dalam masyarakat Cirebon adapula
Sistem pemerintahan kerajaan yaitu keraton. Dalam lingkungan keraton ada
keturunan raja yang menjabat sebagai Sultan Cirebon. Ada beberapa keraton di
daerah Cirebon yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton
Kacirebonan.
Untuk mata pencaharian
masyarakat Cirebon bervariatif seperti nelayan, pedagang, petani dan industri.
Cirebon terkenal dengan mata pencaharian nelayan dimana Cirebon adalah
salah satu pemasok terbesar terasi. Hal ini bisa kita urut dari sejarah bahwa
Cirebon adalah pelabuhan. Selain itu dari segi nama Cirebon memiliki arti Ci
adalah air dan Rebon adalah udang. Di daerah pesisir selatan Cirebon mayoritas
masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Di daerah pegunungan atau
daerah dekat pusat kota masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai petani.
Adapula pabrik-pabrik dan toko-toko sebagai mata pencaharian masyarakat Cirebon.
Ada hal yang unik dari
masyarakat Cirebon yaitu adalah bahasa. Masyarakat Cirebon dalam berkomunikasi
menggunakan bahasa Cirebon. Bahasa Cirebon mendapat pengaruh dari budaya Sunda.
Hal itu terjadi karena Cirebon berbatasan langsung dengan kebudayaan Sunda
khususnya Sunda Kuningan dan Sunda Majalengka, dan juga dipengaruhi oleh Budaya
China, Arab dan Eropa. Hal ini terbukti dengan adanya kata "Taocang
(Kuncir)" yang merupakan serapan China, kata "Bakda (Setelah)" yang merupakan serapan
Bahasa Arab dan kemudian kata "Sonder (Tanpa) yang merupakan serapan bahasa
eropa (Belanda). Bahasa Cirebon mempertahankan bentuk-bentuk kuno bahasa Jawa
seperti kalimat-kalimat dan pengucapan, misalnya isun (saya) dan sira (kamu)
yang sudah tak digunakan lagi oleh bahasa Jawa Baku.
Sekian dari artikel kali ini , terima kasih sudah mau mampir
source : https://muhfajiri.wordpress/com/2013/03/13/keragaman-budaya-daerah-cirebon/
https://komunitas.bukalapak.com/s/gwri0x/kuliner_jajanan_makanan_khas_cirebon_bikin_lidah_bergoyang_euy
https://komunitas.bukalapak.com/s/gwri0x/kuliner_jajanan_makanan_khas_cirebon_bikin_lidah_bergoyang_euy





